Persatuan adalah kata yang indah diucapkan, namun realisasinya penuh dengan perjuangan. Allah Jalla Jalāluhū berfirman dalam QS. Ali ‘Imran: 103:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا
“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.” [1]
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan ayat ini dalam tafsirnya:
وتمسَّكوا بدين الله الذي أمركم به، وعهده الذي عَهده إليكم في كتابه، من الألفة والاجتماع على كلمة الحق، والتسليم لأمر الله
“Berpegang teguhlah dengan agama Allah yang telah Dia perintahkan kepadamu, dan perjanjian-Nya yang telah Dia tetapkan kepadamu dalam Kitab-Nya, yaitu persatuan dan kesatuan di atas kalimat kebenaran serta ketundukan kepada perintah Allah.” [2]
Imam al-Qurṭubī dalam tafsirnya menyebutkan bahwa tali Allah itu adalah Al-Qur’an. Beliau membawakan hadis Abdullah bin Mas‘ud raḍiyallāhu ‘anhu:
فإن الله تعالى يأمر بالألفة وينهى عن الفرقة فإن الفرقة هلكة والجماعة نجاة
“Sesungguhnya Allah Ta‘ālā memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan, karena perpecahan adalah kebinasaan, sedangkan persatuan (al-jamā‘ah) adalah keselamatan.” [3]
Persatuan yang dimaksud adalah persatuan di atas Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ.
لا يجوز لأمة محمد أن تتفرق في عقيدتها وفي عباداتها وفي أحكام دينها هذا يقول حلال وهذا حرام بغير دليل، أنا وأنت فإنه يجب علينا أن نرجع إلى كتاب الله وسنة رسوله
“Umat Muhammad tidak boleh berpecah dalam akidah, ibadah, dan hukum-hukum agamanya. Tidak boleh mengatakan ini halal dan itu haram tanpa dalil. Aku dan engkau wajib kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya,” ungkap Syaikh Prof. Dr. Ṣāliḥ al-Fauzān. [4]
Dengan demikian, tidak boleh ada persatuan di atas kalimat yang batil. Misalnya, sekumpulan orang bersatu mengambil sertifikat tanah milik yayasan orang lain secara berjamaah, kemudian dijual dan uang hasil penjualannya digunakan untuk membeli tanah fasilitas dakwah, menegakkan sunnah, sekaligus bisnis pendidikan. Maka persatuan seperti ini jelas dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Allah Ta‘ālā berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Demikian pula dalam sebuah hadis dari Sa‘īd bin Zaid raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَن أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ
“Barang siapa mengambil sejengkal tanah dengan cara zalim, maka Allah akan mengalungkannya pada hari kiamat dari tujuh lapis bumi.”
(HR. al-Bukhārī no. 3198, Muslim no. 1610) [5]
Imam al-Baghawī membawakan atsar dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu:
إن اللهَ يرضى لكم ثلاثًا ويسخط لكم ثلاثًا: يرضى لكم أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئًا، وأن تعتصموا بحبل الله جميعًا ولا تفرّقوا، وأن تناصحوا من ولاه الله أمركم
“Sesungguhnya Allah meridai kalian tiga perkara dan murka terhadap kalian dalam tiga perkara: Allah meridai kalian jika kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, berpegang teguh pada tali Allah secara bersama-sama dan tidak bercerai-berai, serta menasihati orang yang Allah beri kekuasaan atas kalian.”
(HR. Muslim no. 1715, Aḥmad no. 8799, Ibnu Ḥibbān no. 3388; disahihkan Ibnu Bāz dalam Majmū‘ Fatāwā 12/352) [6]
Tali Allah dalam hadis tersebut dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsīr dalam tafsirnya ketika menafsirkan Ali ‘Imran: 103. Beliau membawakan hadis dari Zaid bin Tsābit:
كتابُ اللهِ عزَّ وجلَّ حبلٌ ممدودٌ ما بينَ السماءِ والأرضِ
“Kitabullah ‘Azza wa Jalla adalah tali yang terbentang antara langit dan bumi.”
(Majma‘ az-Zawā’id 9/165; al-Haitsami berkata: sanadnya jayyid) [7]
Dalam realitas kehidupan, persatuan di antara kaum Muslimin—terkhusus di kalangan pemuda Islam, baik para da‘i maupun pelajar—sering diuji dengan perselisihan antara kebenaran dan kebatilan. Tidak sedikit yang gagal melewati ujian tersebut sehingga persatuan kandas di tengah jalan.
Persatuan dapat diupayakan dengan lima poin berikut:
Pertama
Harus siap berada di pihak yang disalahkan ketika perselisihan diajukan kepada para ulama atau da‘i senior yang lebih berilmu dan berpengalaman. Manusia selain nabi tidak ma‘ṣūm, sehingga berpotensi salah. Manhaj sahabat adalah berjiwa besar mengakui kesalahan dan kembali kepada kebenaran, sebagaimana sikap ‘Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu dalam persoalan memerangi orang yang enggan membayar zakat, hingga akhirnya mengikuti pendapat Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu ‘anhu. [8]
Kedua
Makna al-jamā‘ah harus dipahami dengan benar. Al-jamā‘ah adalah yang sesuai dengan kebenaran meskipun minoritas, sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas‘ud raḍiyallāhu ‘anhu:
الجماعة ما وافق الحق ولو كنت وحدك
“Al-jamā‘ah adalah yang sesuai dengan kebenaran meskipun engkau sendirian.” [9]
Ketiga
Tidak bersikap ghuluw dalam mengikuti guru. Ghuluw dapat menyeret kepada syirik akbar. Nabi ﷺ menjelaskan makna firman Allah QS. At-Taubah: 31 kepada ‘Adi bin Ḥātim raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa menaati tokoh dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal adalah bentuk ibadah kepada mereka. [10]
Keempat
Istikamah berhukum kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisā’: 59)
Syaikh Prof. Dr. Ṣāliḥ al-Fauzān menegaskan wajib meninggalkan hukum buatan manusia dan berhukum kepada Kitabullah. [11]
Kelima
Segera menyelesaikan perselisihan sebelum membesar. Menumpuk perselisihan hanya menciptakan bom waktu. Manhaj sahabat adalah menyelesaikan konflik dengan cepat berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana dijelaskan Syaikh Prof. Dr. Ṣāliḥ al-Fauzān dalam Syarḥ Uṣūl as-Sittah. [12]
Pontianak, 24 Rajab 1447 H / 14 Januari 2025
Akhukum fillāh,
Dr. Dodi Iskandar, S.Si., M.Pd
Alumnus Ma‘had al-‘Ilmī Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar