IslamPonti

  • Home
  • Tentang Penulis
  • Blog
    • Manhaj
    • Akhlak
    • Akidah
    • Bahasa Arab
    • Fikih
    • Keluarga
    • Lainnya
  • Rekaman Kajian
  • Download

 

 Google Banana Image Generated

Ilmu Allah itu ada dua bagian, disebutkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah dalam kitab tafsirnya, berikut teks Arabnya:

طالب: عِلْمُ الله قسمان (...).

الشيخ: يعني علم الله قسمان؛ علم سابق على الفعل، وعلم لاحق، فالمعنى: حتى نعلم علما يكون به الشيء ظاهرًا فنعلمه بعد وقوعه هذا وجه، وجه آخر أن المراد به العلم الذي يترتب عليه الجزاء، ولهذا قال: ﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ﴾، والعلم الذي يترتب عليه الجزاء لا يكون إلا بعد الفعل، أليس كذلك؟ وهذا الوجه أوضح وأرجح، ويفهمه كل إنسان، أن نقول: إن علم الله نوعان: عِلْم بأن الشيء سيقع، وهذا سابق، وعِلْم بأنه وقع وهذا هو الذي يترتب عليه الجزاء.

Penanya: Ilmu Allah itu terbagi menjadi dua bagian (...).

Syaikh: Maksudnya, ilmu Allah terbagi dua:

1.  Ilmu sebelum kejadian ('ilm sabiq)

2.  Ilmu setelah kejadian ('ilm lahiq)

Maksud dari ayat tersebut adalah: “Sampai Kami mengetahuinya secara nyata setelah hal itu benar-benar terjadi.” Ini adalah penjelasan pertama.

Penjelasan kedua—yang lebih jelas dan lebih kuat—adalah bahwa yang dimaksud di sini adalah ilmu yang menjadi dasar pemberian balasan (pahala atau siksa).

Itulah mengapa Allah berfirman: “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian sampai Kami mengetahui...” Sebab, balasan tidak mungkin diberikan sebelum perbuatannya dilakukan, bukan?

Cara memahami yang paling mudah untuk semua orang adalah:

  • Jenis Pertama: Allah sudah tahu bahwa sesuatu akan terjadi (sebelum terjadi).
  • Jenis Kedua: Allah tahu bahwa sesuatu telah terjadi (setelah terjadi), dan dari sinilah balasan amal diberikan.

 

Referensi: https://tafsir.app/ibn-uthaymeen/4/127

 

Pontianak, 11 Jumadil Awal 1448 / 22 Oktober 2026 Akhukum Fillah,

 

Dr. Dodi Iskandar Alumni Ma'had Al-Ilmi Yogyakarta

Staf Ahli LPPOM MUI Kalbar

Dosen Politeknik Negeri Pontianak

 


 

Google Banana Image Generated
 

Pendalilan Syafi'iyah dalam melakukan praktik takbiran malam Idulfitri terdapat dalam Kitab Al-Majmū‘ Syarḥ Al-Muhażżab karya Abū Zakariyyā Muḥyīd-Dīn bin Syaraf An-Nawawī (wafat 676 H) yang bersumber dari https://app.turath.io/book/2186?page=2343. Berikut teks Arabnya:

باب التكبير

قال المصنف رحمه الله:

"التكبير سنة في العيدين لما روى نافع عن عبد الله أن رسول الله ﷺ كان يخرج في العيدين مع الفضل بن عباس وعبد الله بن عباس وعلي وجعفر والحسن والحسين واسامة بن زيد وزيد بن حارثة وايمن ابن ام أيمن رافعا صوته بالتهليل والتكبير ويأخذ طريق الحدادين حتى يأتي المصلي. وأول وقت تكبير الفطر إذا غابت الشمس من ليلة الفطر لقوله عز وجل (ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم) واكمال العدة بغروب الشمس من ليلة الفطر. واما آخره ففيه طريقان من أصحابنا من قال فيه ثلاثة أقوال: (أحدها) ما روى المزني أنه يكبر إلى أن يخرج الإمام إلى الصلاة لأنه إذا حضر فالسنة أن يشتغل بالصلاة فلا معنى للتكبير. (والثاني) ما رواه البويطي انه يكبر حتى تفتتح الصلاة لان الكلام مباح قبل ان تفتتح الصلاة فكان التكبير مستحبا. (والثالث) قاله في القديم حتى ينصرف الامام لان الامام والمأمومين مشغولون بالذكر الي ان يفرغوا من الصلاة فسن لمن لم يكن في الصلاة ان يكبر. ومن اصحابنا من قال هو علي قول واحد انه يكبر الي ان تفتتح الصلاة وتأول رواية المزني علي ذلك لانه إذا خرج الي المصلي افتتح الصلاة وقوله في القديم حتى ينصرف الامام لانه ما لم ينصرف مشغول بالتكبير في الصلاة. ويسن التكبير المطلق في عيد الفطر وهل يسن التكبير المقيد في ادبار الصلوات فيه وجهان".

Terjemahannya:

BAB TAKBIR HARI RAYA

1. Hukum Dasar Bertakbir

Penulis (semoga Allah merahmatinya) menjelaskan:

"Membaca takbir pada Hari Raya Idulfitri dan Iduladha hukumnya adalah sunnah."

Hal ini bersumber dari riwayat Nafi' dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berangkat menuju tempat salat (mushalla) pada dua hari raya bersama para sahabat—seperti Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Ja'far bin Abi Thalib, Al-Hasan, Al-Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman.

Sepanjang perjalanan melalui jalur Al-Haddadin, beliau senantiasa mengumandangkan tahlil dan takbir dengan suara keras hingga tiba di lokasi salat.

 

2. Waktu Pelaksanaan Takbir Idulfitri

A. Awal Waktu

Waktu dimulainya takbir Idulfitri adalah sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri (malam takbiran).

Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ

(Artinya: "Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah [bertakbir] atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu..." — QS. Al-Baqarah: 185).

Penyempurnaan bilangan puasa Ramadan (ikmalul 'iddah) ditandai secara resmi oleh masuknya waktu magrib pada malam raya tersebut.

B. Batas Akhir Waktu

Mengenai batas akhir mengumandangkan takbir, ulama mazhab Syafi'i membaginya ke dalam dua jalan pemikiran (thariq):

Jalan Pertama: Meyakini ada tiga pendapat (qaul):

1. Pendapat Pertama (Riwayat Al-Muzani): Takbir berakhir saat imam keluar/berangkat menuju tempat salat. Sebab ketika imam sudah hadir, fokus jemaah berpindah untuk mempersiapkan salat, sehingga takbir tidak perlu dilanjutkan lagi.

2. Pendapat Kedua (Riwayat Al-Buwaiti): Takbir terus berlangsung hingga salat resmi dimulai (takbiratul ihram). Alasannya, sebelum salat dimulai, seseorang masih boleh berbicara biasa, sehingga mengisi waktu tersebut dengan takbir tentu lebih dianjurkan.

3. Pendapat Ketiga (Qaul Qadim / Pendapat Lama Imam Syafi'i): Takbir dikumandangkan sampai imam selesai dari salatnya. Alasannya, karena imam dan makmum sama-sama sedang berzikir hingga salat usai, maka orang yang tidak sedang salat pun disunnahkan untuk ikut mengumandangkan takbir.

Jalan Kedua: Meyakini hanya ada satu pendapat saja, yaitu takbir berakhir saat salat dimulai.

- Riwayat Al-Muzani ditafsitkan demikian karena begitu imam keluar, ia langsung memulai salat.

- Begitu pula Qaul Qadim ditafsirkan bahwa selama salat berlangsung, imam sebenarnya masih terus bertakbir di dalam rangkaian salatnya.

 

3. Pembagian Jenis Takbir pada Idulfitri

- Takbir Muthlaq (Mursal):

Disunnahkan mengumandangkan takbir secara bebas kapan saja dan di mana saja selama malam Idulfitri hingga menjelang salat.

- Takbir Muqayyad (Terikat Setelah Salat):

Mengenai apakah takbir disunnahkan secara khusus setiap kali selesai menjalankan salat (fardu maupun sunnah) pada Idulfitri, terdapat dua pandangan (wajh) di kalangan ulama mazhab:

1. Tidak disunnahkan, karena tidak ada riwayat khusus dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai hal tersebut.

2. Disunnahkan, karena Idulfitri adalah hari raya yang disunnahkan takbir muthlaq, sehingga dianjurkan pula takbir muqayyad sebagaimana pada Iduladha.

 

Pontianak, Ahad 7 Jumadilawal 1448 / 18 Oktober 2026

 

Akhukum Fillah

 

 

Dr. Dodi Iskandar

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta

Dosen Politeknik Negeri Pontianak

Staf Ahli LPPOM MUI Kalbar

 

Bukti Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah menganggap tawassul termasuk masalah fikih ijtihadiyyah dapat dicek di kitab fatawa wal masa’il Karya beliau sendiri di Halaman 68-69, berikut teks arabnya: 

العاشرة - قولهم في الاستسقاء: لا بأس بالتوسل بالصالحين؛ وقول أحمد: يتوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم خاصة، مع قولهم إنه لا يستغاث بمخلوق، فالفرق ظاهر جداً، وليس الكلام مما نحن فيه، فكون بعض يترخص بالتوسل بالصالحين وبعضهم يخصه بالنبي صلى الله عليه وسلم، وأكثر العلماء ينهي عن ذلك ويكرهه، فهذه المسألة من مسائل الفقه (٥)، ولو كان الصواب عندنا قول الجمهور إنه مكروه فلا ننكر على من فعله، ولا إنكار في مسائل الاجتهاد، لكن إنكارنا على من دعا لمخلوق أعظم مما يدعو الله تعالى، ويقصد القبر يتضرع عند ضريح الشيخ عبد القادر أو غيره يطلب فيه تفريج الكربات، وإغاثة اللهفات، وإعطاء الرغبات فأين هذا ممن يدعو الله مخلصاً له الدين لا يدعو مع الله أحداً، ولكن يقول في دعائه: أسألك بنبيك، أو بالمرسلين، أو بعبادك الصالحين، أو يقصد قبر معروف أو غيره يدعو عنده ، لكن لا يدعو ( إلا ) (١) الله مخلصاً له الدين ، فأين هذا مما نحن فيه ؟

Poin Kesepuluh: Tawasul dalam Shalat Istisqa dan Perbedaannya dengan Meminta kepada Makhluk

1. Membedakan Tawasul dan Istighatsah

Sebagian ulama membolehkan tawasul (menjadikan perantara) dengan orang-orang saleh. Imam Ahmad pun secara khusus membolehkan tawasul dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Meskipun begitu, mereka tetap menegaskan bahwa istighatsah (meminta pertolongan langsung) kepada selain Allah itu tidak boleh. Perbedaan antara keduanya sangatlah jelas dan bukan merupakan pokok bahasan yang sedang kita permasalahkan.

2. Perbedaan Pendapat Para Ulama (Masalah Fikih)

Mengenai hukum bertawasul, terdapat beberapa pandangan di kalangan ulama:

  • Sebagian ulama membolehkan tawasul dengan orang-orang saleh secara umum.
  • Sebagian lainnya membolehkan tawasul khusus hanya untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
  • Mayoritas ulama (jumhur) melarang dan membencinya (menghukuminya makruh).

Karena topik ini tergolong sebagai masalah fikih ijtihadiyah (masalah yang masih dibahas lewat ijtihad para ulama), maka meskipun pendapat yang kami anggap paling benar adalah pendapat mayoritas ulama (makruh), kita tidak boleh saling menyalahkan atau mengingkari orang yang bertawasul. Prinsipnya: tidak ada pengingkaran keras dalam masalah-masalah ijtihad.

3. Fokus Pengingkaran yang Sebenarnya

Sikap tegas dan pengingkaran kita sejatinya ditujukan kepada orang yang berdoa langsung kepada makhluk. Contohnya:

  • Orang yang mendatangi kuburan (seperti makam Syekh Abdul Qadir al-Jilani atau wali lainnya), lalu merendahkan diri dan berdoa kepada penghuni kubur tersebut.
  • Meminta kepada si penghuni kubur agar menghilangkan kesusahan, menolong dari kesulitan, serta mengabulkan berbagai hajat.

4. Perbandingan Dua Kondisi

Sungguh sangat jauh perbedaannya antara dua hal berikut:

  1. Orang yang berdoa langsung kepada selain Allah di kuburan (seperti contoh di atas).
  2. Orang yang berdoa murni hanya kepada Allah, tidak mempersekutukan-Nya, namun di dalam doanya ia menyelipkan kalimat tawasul, seperti:

"Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu melalui perantara Nabi-Mu, para Rasul-Mu, atau hamba-hamba-Mu yang saleh". Maksudnya, seseorang mendatangi makam tokoh terkenal (seperti Ma'ruf al-Karkhi) atau makam lainnya, lalu berdoa di sisi makam tersebut. Namun, ia berdoa hanya kepada Allah semata dengan penuh keikhlasan. Maka sungguh sangat jauh perbedaannya antara perbuatan ini dengan perkara (penyimpangan/syirik) yang sedang kita bahas saat ini."

 

 

Pontianak, 6 Jumadil awal 1448/17 Oktober 2026

 

Akhukum fillah

 

Dr. Dodi Iskandar

Alumni Mahad Al Ilmi Yogyakarta

Dosen Politeknik Negeri Pontianak

Staf Ahli LPPOM MUI Kalbar

 

 

Google Banana Image

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengajurkan tadarusan (fokus pada kondisi kedua) di Masjid, beliau tidak membidahkan sebagaimana beliau rahimahullah terangkan dalam kitab syarah arbain an nawawi hal 433-434 terbitan muasasah syaikh muhammad bin shalih al ustaimin al khairiyyah tahun 1444 cetakan ke-16 berikut teks arabnya:

18 - الحث على الاجتماع على كتاب الله عز وجل، ثم إذا اجتمعوا فلهم ثلاث حالات:

الحال الأولى: أن يقرؤوا جميعًا بفم واحد وصوت واحد، وهذا على سبيل التعليم لا بأس به، كما يقرأ المعلم الآية ثم يتبعه المتعلمون بصوت واحد، وإن كان على سبيل التعبد فبدعة، لأن ذلك لم يؤثر عن الصحابة ولا عن التابعين.

الحال الثانية: أن يجتمع القوم فيقرأ أحدهم وينصت الآخرون، ثم يقرأ الثاني ثم الثالث ثم الرابع وهلم جرا، وهذا له وجهان:

الوجه الأول: أن يكرروا المقروء، فيقرأ الأول مثلا صفحة، ثم يقرأ الثاني نفس الصفحة، ثم الثالث نفس الصفحة وهكذا، وهذا لا بأس به، ولا سيما لحفاظ القرآن الذين يريدون تثبيت حفظهم.

الوجه الثاني: أن يقرأ الأول قراءة خاصة به أو مشتركة، ثم يقرأ الثاني غير ما قرأ الأول، وهذا أيضًا لا بأس به.

وكان علماؤنا ومشايخنا يفعلون هذا، فيقرأ أحدهم الثمن الأول من البقرة مثلا، ويقرأ الثاني الثمن الثاني، ويقرأ الثالث الثمن الثالث وهلم جرا، فيكون أحدهم قارئًا والآخرون مستمعين، والمستمع له حكم القارئ في الثواب، ولهذا قال الله عز وجل في قصة موسى وهارون: ﴿قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا﴾ [يونس: 89]، والداعي موسى عليه السلام، كما قال الله تعالى: ﴿وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ﴾

الْأَلِيمَ (۸۸) قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا [يونس: ٨٨-٨٩] قيل: إن موسى يدعو وهارون يؤمن، ولهذا شرع للإنسان المستمع لقراءة القارئ إذا سجد القارئ أن يسجد.

الحال الثالثة: أن يجتمعوا وكل إنسان يقرأ لنفسه دون أن يستمع له الآخرون، وهذه هو الذي عليه الناس الآن، فتجد الناس في الصف في المسجد كلُّ يقرأ لنفسه والآخرون لا يستمعون إليه.

18. Anjuran Berkumpul untuk Membaca Al-Qur'an

Ketika orang-orang berkumpul untuk membaca Al-Qur'an, ada tiga kondisi atau cara yang biasa terjadi:

1. Kondisi Pertama: Membaca Bersama-sama Serentak (Satu Suara)

  • Tujuan Pengajaran (Belajar-Mengajar): Boleh/Diperbolehkan. Contohnya ketika guru membaca satu ayat, lalu para murid mengulanginya bersama-sama untuk belajar.
  • Tujuan Ibadah (Rutin/Khusus): Bid'ah. Hal ini tidak diperbolehkan jika niatnya murni sebagai bentuk ibadah khusus, karena tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat maupun tabi'in.

2. Kondisi Kedua: Membaca Bergantian (Satu Membaca, yang Lain Menyimak)

Satu orang membaca Al-Qur'an sementara yang lainnya mendengarkan dengan tenang, lalu dilanjutkan oleh orang kedua, ketiga, dan seterusnya. Metode ini terbagi menjadi dua cara:

  • Cara Pertama (Mengulang Bacaan yang Sama):

Orang pertama membaca satu halaman, lalu orang kedua membaca halaman yang sama, diikuti orang ketiga, dan seterusnya.

    • Hukum: Boleh. Cara ini sangat bagus dan bermanfaat, terutama bagi para penghafal Al-Qur'an yang ingin memperkuat (muraja'ah) hafalan mereka.
  • Cara Kedua (Melanjutkan Bacaan/Tadarus Bergantian):

 

Orang pertama membaca suatu bagian, lalu orang kedua melanjutkan ayat/halaman berikutnya.



    • Hukum: Boleh. Ini adalah kebiasaan para ulama dan guru-guru kami. Misalnya, orang pertama membaca seperdelapan juz (utsmun) pertama surat Al-Baqarah, orang kedua membaca bagian berikutnya, dan seterusnya.

 

    • Keutamaan: Seseorang menjadi pembaca dan yang lainnya menjadi pendengar. Pendengar mendapatkan pahala yang sama dengan pembaca. 

Dalil Keutamaan Pendengar:

Allah Azza wa Jalla berfirman mengenai kisah Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihimassalam:

“Sungguh, telah dikabulkan doa kamu berdua...” (QS. Yunus: 89)

Padahal, yang mengucap doa secara langsung hanyalah Nabi Musa (sebagaimana disebutkan dalam QS. Yunus: 88). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Nabi Musa yang berdoa, sedangkan Nabi Harun menyimak dan mengaminkannya. Karena ikut mengaminkan, Allah menganggap keduanya sama-sama berdoa.

Oleh sebab itu, disyariatkan pula bagi orang yang menyimak/mendengarkan bacaan Al-Qur'an untuk ikut melakukan sujud tilawah apabila si pembaca melakukan sujud tilawah.

3. Kondisi Ketiga: Berkumpul dalam Satu Ruangan, Tetapi Membaca Masing-Masing

Setiap orang membaca Al-Qur'an untuk dirinya sendiri tanpa saling mendengarkan atau menyimak satu sama lain.

  • Gambaran Realita: Inilah kondisi yang paling umum kita jumpai saat ini, seperti jamaah yang duduk di shaf-shaf masjid di mana masing-masing membaca Al-Qur'an sendiri-sendiri.

 

Pontianak, 6 Jumadil awal 1448/17 Oktober 2026

Akhukum fillah

 

Dr. Dodi Iskandar

Alumni Mahad Al Ilmi Yogyakarta

Dosen Politeknik Negeri Pontianak

Staf Ahli LPPOM MUI Kalbar

 

Postingan Lama Beranda

Prakata

﷽


Tujuan blog ini dibuat untuk menyebarkan ajaran Islam yang murni melalui internet sebagaimana yang dipahami oleh salafus sholeh sebagai bentuk realisasi dari peran serta mendakwahkan Islam sebagaimana yang Allah Ta'ala firmankan dalam surat Al Ashr ayat ketiga:


وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ


"supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran"


Abu Aisyah (Dr. Dodi Iskandar, S.Si., M.Pd.)
Lihat Profil Selengkapnya ....

Jadwal Kajian

Jadwal Kajian

Visitor

Copyright © 2015 IslamPonti

Created By ThemeXpose