Berikut adalah ringkasan naratif dari tiga publikasi ilmiah terkait riset tanaman obat asal Kalimantan Barat yang melibatkan Dr. Dodi Iskandar dan tim, mencakup dua spesies tanaman: Bajakah (Spatholobus littoralis Hassk) dan Gambir (Uncaria gambir Roxb). Ketiga publikasi ini saling berkaitan sebagai bagian dari rangkaian riset jangka panjang yang mengeksplorasi potensi farmakologis tanaman lokal Kalimantan sebagai kandidat obat alami, khususnya di bidang antikanker dan antioksidan.
1. Materials Science Forum (2022) — Prediksi Senyawa Bioaktif Spatholobus littoralis via LC-MS/MS dan Studi In Silico
Penulis: Dodi Iskandar dan tim, melibatkan kolaborasi antara Politeknik Negeri Pontianak, Universitas Brawijaya, Universitas Ma Chung, dan Pemerintah Kabupaten Sanggau.
Riset ini berangkat dari fakta bahwa meskipun Bajakah Kuning (Spatholobus littoralis Hassk) telah lama dipakai masyarakat Dayak Kalimantan sebagai obat tradisional, belum ada penelitian yang secara spesifik mengidentifikasi senyawa-senyawa aktif penyusunnya secara molekuler. Studi ini mengisi kekosongan tersebut dengan pendekatan gabungan antara analisis instrumen (LC-MS/MS) dan prediksi komputasional (in silico).
Metode
Sebanyak 3 kilogram batang Spatholobus littoralis Hassk dicacah dengan mesin disk mill, lalu dimaserasi dalam 30 liter etanol, menghasilkan 96,35 gram ekstrak kering setelah disaring, dipekatkan, dan dikeringkan pada suhu 50°C. Ekstrak dianalisis dengan LC-MS/MS (sistem UPLC Waters ACQUITY H-Class, detektor Xevo G2-S Qtof), dicocokkan ke pustaka mzCloud untuk identifikasi struktur. Sifat farmakokinetik tiap senyawa diprediksi dengan SwissADME, dan interaksi senyawa-protein dianalisis dengan STITCH serta divisualisasikan dengan Cytoscape.
Hasil Utama
• Dari kromatogram ekstrak etanol, teridentifikasi 12 senyawa dengan waktu retensi tertinggi.
• Sembilan dari 12 senyawa tersebut memenuhi kriteria kelayakan farmakologis standar (rentang berat molekul, luas permukaan polar/TPSA, jumlah ikatan yang dapat berotasi, nilai lipofilisitas XLOGP3, dan kelarutan logS) sehingga dinilai berpotensi aman dikonsumsi secara oral.
• Analisis interaksi ligan-protein menunjukkan bahwa senyawa nomor 6, yaitu asam 3-hidroksioktanoat, memiliki afinitas ikatan yang kuat (skor kepercayaan 90%) terhadap protein reseptor HCAR3.
• Sembilan senyawa yang lolos kriteria disimpulkan berpotensi sebagai kandidat obat, meskipun para peneliti secara eksplisit merekomendasikan studi lanjutan berupa molecular docking dan simulasi dinamika molekuler untuk memvalidasi temuan prediksi awal ini.
Studi ini menjadi yang pertama memetakan profil senyawa kimia Bajakah Kuning secara sistematis, membuka jalan bagi riset lanjutan yang lebih mendalam — termasuk uji sitotoksisitas, antioksidan, dan antibakteri yang dilakukan tim yang sama pada tahap berikutnya.
Memahami Istilah Kunci: HCAR3, Pellagra, dan Distal Hereditary Motor Neuronopathy Type 2
HCAR3 (Hydroxycarboxylic Acid Receptor 3) adalah gen pengkode protein reseptor di permukaan sel, tergolong keluarga GPCR (G protein-coupled receptor). Reseptor ini merespons asam hidroksikarboksilat, termasuk asam 3-hidroksioktanoat yang menjadi fokus interaksi dalam studi ini. Begitu senyawa berikatan dengan HCAR3, reseptor mengaktifkan jalur sinyal cAMP yang berperan mengatur metabolisme lemak, khususnya menekan lipolisis pada sel adiposa.
Distal Hereditary Motor Neuronopathy Type 2 (HMN2/dHMN2) adalah kelainan genetik langka yang menyerang saraf motorik tanpa mengganggu fungsi sensorik. Penyakit ini diwariskan secara autosomal dominan, dengan gejala mulai muncul di usia 15-25 tahun, diawali kelemahan otot ekstensor jempol kaki dan berkembang progresif hingga kelumpuhan menyeluruh pada otot bagian distal tungkai bawah.
Pellagra adalah penyakit akibat kekurangan niasin (vitamin B3) dalam tubuh, dengan gejala klasik yang dikenal sebagai 'tiga D': dermatitis (peradangan kulit), diare, dan demensia (gangguan kognitif). Apabila tidak ditangani, kondisi ini berpotensi berakibat fatal.
Catatan penting: penelusuran ke basis data GeneCards versi terkini menunjukkan asosiasi HCAR3 dengan pellagra tidak lagi tercatat — pellagra kini lebih dikaitkan dengan HCAR2, paralog dari HCAR3. Kemungkinan penyebabnya adalah pembaruan basis data sejak 2022, atau tumpang tindih informasi antar kedua gen paralog tersebut. Untuk sitasi mendatang, disarankan verifikasi ulang ke GeneCards terbaru.
2. Majalah Obat Tradisional UGM (2024) — Isolasi Senyawa Antikanker dari Fraksi Etil Asetat Spatholobus littoralis
Publikasi kedua ini merupakan kelanjutan dari studi profiling senyawa sebelumnya, berfokus pada isolasi dan pemurnian senyawa tunggal dari fraksi etil asetat batang Bajakah, sekaligus menguji langsung bioaktivitas antikankernya secara in vitro.
Metode
Proses isolasi senyawa dilakukan dengan HPLC preparatif. Struktur molekul isolat yang diperoleh dielusidasi melalui kombinasi LC-MS/MS (penentuan massa dan pola fragmentasi), FTIR (identifikasi gugus fungsi), dan NMR (pemetaan struktur molekul). Bioaktivitas antikanker diuji menggunakan MTT assay, uji sitotoksisitas standar berbasis kolorimetri.
Hasil Utama
• Penelitian berhasil mengisolasi dua senyawa dari fraksi etil asetat, yang keduanya diprediksi merupakan senyawa yang sama, yaitu pseudobaptinin.
• Isolat pseudobaptinin dalam kondisi relatif murni menunjukkan nilai IC50 sebesar 62,85 ppm terhadap sel kanker yang diuji.
• Isolat pseudobaptinin yang masih mengandung pengotor (impurities) menunjukkan nilai IC50 yang jauh lebih tinggi, yaitu 145,60 ppm — mengindikasikan bahwa kemurnian senyawa berpengaruh signifikan terhadap potensi sitotoksiknya.
Temuan ini penting karena berhasil mengidentifikasi secara spesifik senyawa tunggal (pseudobaptinin) yang bertanggung jawab atas aktivitas antikanker Bajakah, melangkah lebih jauh dari sekadar profiling senyawa secara umum menuju identifikasi senyawa aktif yang definitif dan dapat diukur potensinya secara kuantitatif.
3. Majalah Obat Tradisional UGM (2024) — Antioksidan dan Antikanker Payudara dari Daun Uncaria gambir Roxb
Publikasi ketiga ini sedikit berbeda arah karena berfokus pada spesies tanaman yang berbeda, yaitu Gambir (Uncaria gambir Roxb), meskipun tetap melibatkan tim peneliti dan pendekatan metodologis yang serupa dengan riset Bajakah sebelumnya. Gambir dipilih karena juga merupakan tanaman khas Kalimantan Barat yang diprediksi memiliki kandungan senyawa antioksidan dan antikanker payudara.
Metode
Daun Gambir kering seberat 321 gram diekstraksi dengan metode infusa air, direbus 15 menit dengan 4 kali pengulangan pada suhu 70°C, menghasilkan 96,24 gram ekstrak kental (rendemen 29,98%). Aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH (pembanding kuersetin dan vitamin C) serta FRAP. Skrining in silico memprediksi interaksi senyawa Gambir terhadap protein target TP53, gen supresor tumor. Uji antikanker dilakukan langsung terhadap lini sel kanker payudara 4T1.
Hasil Utama
• Uji antioksidan metode DPPH menunjukkan nilai IC50 sebesar 81,21 µg/mL ketika ekstrak dibandingkan dengan kuersetin sebagai kontrol positif, dan 73,39 µg/mL ketika dibandingkan dengan vitamin C.
• Metode FRAP menunjukkan nilai aktivitas antioksidan sebesar 66,05 µg/mL.
• Skrining in silico mengindikasikan bahwa senyawa-senyawa bioaktif dalam ekstrak Gambir berpotensi berperan sebagai penguat ekspresi gen TP53, sekaligus memiliki sifat antioksidan, antikarsinogenik, kemopreventif, dan penangkal radikal bebas.
• Pengujian langsung terhadap sel kanker payudara 4T1 menunjukkan ekstrak Gambir berbasis pelarut air memiliki potensi penghambatan yang kuat, dengan nilai IC50 sebesar 87,72 µg/mL.
Ketiga publikasi ini menggambarkan pola riset berkesinambungan: dimulai dari profiling senyawa secara luas (studi pertama), berlanjut ke isolasi senyawa spesifik (studi kedua), dan diperluas ke spesies tanaman lain berpotensi serupa (studi ketiga) — mencerminkan pendekatan sistematis dalam menggali kekayaan hayati Kalimantan Barat sebagai sumber kandidat obat alami di bidang onkologi dan farmakologi bahan alam.
Catatan:
Bagi yang memerlukan artikel ketiga hubungi iskandar.dodi79@gmail.com, nanti saya kirim filenya
Referensi:
1. https://journal.ugm.ac.id/TradMedJ/article/view/92604
2. https://journal.ugm.ac.id/TradMedJ/article/view/88894
3. https://www.scientific.net/MSF.1061.181


.png)
.png)
.png)
.png)
.png)




