Pendalilan
Syafi'iyah dalam melakukan praktik takbiran malam Idulfitri terdapat dalam
Kitab Al-Majmū‘ Syarḥ Al-Muhażżab karya Abū Zakariyyā Muḥyīd-Dīn bin Syaraf
An-Nawawī (wafat 676 H) yang bersumber dari
https://app.turath.io/book/2186?page=2343. Berikut teks Arabnya:
باب التكبير
قال المصنف رحمه الله:
"التكبير سنة في العيدين لما روى نافع
عن عبد الله أن رسول الله ﷺ كان يخرج في العيدين مع الفضل بن عباس وعبد الله بن
عباس وعلي وجعفر والحسن والحسين واسامة بن زيد وزيد بن حارثة وايمن ابن ام أيمن
رافعا صوته بالتهليل والتكبير ويأخذ طريق الحدادين حتى يأتي المصلي. وأول وقت
تكبير الفطر إذا غابت الشمس من ليلة الفطر لقوله عز وجل (ولتكملوا العدة ولتكبروا
الله على ما هداكم) واكمال العدة بغروب الشمس من ليلة الفطر. واما آخره ففيه
طريقان من أصحابنا من قال فيه ثلاثة أقوال: (أحدها) ما روى المزني أنه يكبر إلى أن
يخرج الإمام إلى الصلاة لأنه إذا حضر فالسنة أن يشتغل بالصلاة فلا معنى للتكبير.
(والثاني) ما رواه البويطي انه يكبر حتى تفتتح الصلاة لان الكلام مباح قبل ان
تفتتح الصلاة فكان التكبير مستحبا. (والثالث) قاله في القديم حتى ينصرف الامام لان
الامام والمأمومين مشغولون بالذكر الي ان يفرغوا من الصلاة فسن لمن لم يكن في
الصلاة ان يكبر. ومن اصحابنا من قال هو علي قول واحد انه يكبر الي ان تفتتح الصلاة
وتأول رواية المزني علي ذلك لانه إذا خرج الي المصلي افتتح الصلاة وقوله في القديم
حتى ينصرف الامام لانه ما لم ينصرف مشغول بالتكبير في الصلاة. ويسن التكبير المطلق
في عيد الفطر وهل يسن التكبير المقيد في ادبار الصلوات فيه وجهان".
Terjemahannya:
BAB
TAKBIR HARI RAYA
1.
Hukum Dasar Bertakbir
Penulis
(semoga Allah merahmatinya) menjelaskan:
"Membaca
takbir pada Hari Raya Idulfitri dan Iduladha hukumnya adalah sunnah."
Hal
ini bersumber dari riwayat Nafi' dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma,
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berangkat menuju tempat
salat (mushalla) pada dua hari raya bersama para sahabat—seperti Al-Fadhl bin
Abbas, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Ja'far bin Abi Thalib, Al-Hasan,
Al-Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman.
Sepanjang
perjalanan melalui jalur Al-Haddadin, beliau senantiasa mengumandangkan tahlil
dan takbir dengan suara keras hingga tiba di lokasi salat.
2.
Waktu Pelaksanaan Takbir Idulfitri
A.
Awal Waktu
Waktu
dimulainya takbir Idulfitri adalah sejak terbenamnya matahari pada malam
Idulfitri (malam takbiran).
Dasarnya
adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ
(Artinya:
"Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah
[bertakbir] atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu..." — QS.
Al-Baqarah: 185).
Penyempurnaan
bilangan puasa Ramadan (ikmalul 'iddah) ditandai secara resmi oleh masuknya
waktu magrib pada malam raya tersebut.
B.
Batas Akhir Waktu
Mengenai
batas akhir mengumandangkan takbir, ulama mazhab Syafi'i membaginya ke dalam
dua jalan pemikiran (thariq):
Jalan
Pertama: Meyakini ada tiga pendapat (qaul):
1.
Pendapat Pertama (Riwayat Al-Muzani): Takbir berakhir saat imam
keluar/berangkat menuju tempat salat. Sebab ketika imam sudah hadir, fokus
jemaah berpindah untuk mempersiapkan salat, sehingga takbir tidak perlu
dilanjutkan lagi.
2.
Pendapat Kedua (Riwayat Al-Buwaiti): Takbir terus berlangsung hingga salat
resmi dimulai (takbiratul ihram). Alasannya, sebelum salat dimulai, seseorang
masih boleh berbicara biasa, sehingga mengisi waktu tersebut dengan takbir
tentu lebih dianjurkan.
3.
Pendapat Ketiga (Qaul Qadim / Pendapat Lama Imam Syafi'i): Takbir
dikumandangkan sampai imam selesai dari salatnya. Alasannya, karena imam dan
makmum sama-sama sedang berzikir hingga salat usai, maka orang yang tidak
sedang salat pun disunnahkan untuk ikut mengumandangkan takbir.
Jalan
Kedua: Meyakini hanya ada satu pendapat saja, yaitu takbir berakhir saat salat
dimulai.
-
Riwayat Al-Muzani ditafsitkan demikian karena begitu imam keluar, ia langsung
memulai salat.
-
Begitu pula Qaul Qadim ditafsirkan bahwa selama salat berlangsung, imam
sebenarnya masih terus bertakbir di dalam rangkaian salatnya.
3.
Pembagian Jenis Takbir pada Idulfitri
-
Takbir Muthlaq (Mursal):
Disunnahkan
mengumandangkan takbir secara bebas kapan saja dan di mana saja selama malam
Idulfitri hingga menjelang salat.
-
Takbir Muqayyad (Terikat Setelah Salat):
Mengenai
apakah takbir disunnahkan secara khusus setiap kali selesai menjalankan salat
(fardu maupun sunnah) pada Idulfitri, terdapat dua pandangan (wajh) di kalangan
ulama mazhab:
1.
Tidak disunnahkan, karena tidak ada riwayat khusus dari Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam mengenai hal tersebut.
2.
Disunnahkan, karena Idulfitri adalah hari raya yang disunnahkan takbir muthlaq,
sehingga dianjurkan pula takbir muqayyad sebagaimana pada Iduladha.
Pontianak,
Ahad 7 Jumadilawal 1448 / 18 Oktober 2026
Akhukum
Fillah
Dr.
Dodi Iskandar
Alumni
Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta
Dosen
Politeknik Negeri Pontianak
Staf
Ahli LPPOM MUI Kalbar