Yang penting ikhlas, benarkah?

Sumber Gambar
Ada yang mengatakan bahwa Allah tetap akan menerima amalan yang dilakukan oleh seorang hamba jika disertai dengan keikhlasan. Pernyataan seperti ini ternyata tidak dibenarkan, sebab Nabi sholawatullah wa salamualaihi menyatakan dengan tegas.

Dari Abu Hurairah semoga Allah meridoinya, ia berkata, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

لايقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ
"Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadast hingga dia berwudhu" (HR Bukhari no.6554).

Dari hadist tersebut sangat jelas, meskipun seandainya seseorang melakukan sholat dengan ikhlas, misalnya ia sholat wajib namun dalam keadaan berhadast maka tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala.

Dari hadist ini pula dapat diambil pelajaran bahwa untuk melakukan ibadah tidak cukup hanya belajar tauhid saja untuk mengihlaskan amalan namun juga harus mengetahui tata caranya. Oleh karena itu mempelajari fikih ibadah juga sangat penting untuk menyempurnakan ibadah. Ibadah yang benar dengan disertai keikhlasan (tauhid) maka akan memberikan manfat bagi pelakunya.

Hadist yang mulia ini bersumber dari sahabat Nabi yang mulia Abu Hurairah. Nama tersebut adalah nama akrab dan terkenal dengan nama itu. Adapun nama aslinya yaitu Abdurrahman bin Shakir ad-Dausi. Beliau masuk Islam pada tahun terjadinya perang Khaibar dan ikut dalam peperangan tersebut. Ibnu umar radhiyallahuanhuma berkata: "Ia adalah orang yang paling serius menyertai nabi di antara kami, dan paling pakar dalam masalah hadist di antara kami". Imam al-Bukhari berkata :"Para ahli ilmu menyebutkan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi sebanyak 5374 hadist". Beliau wafat di Madinah tahun 57 H semoga Allah meridoinya.

Referensi:
Syarah Umdatul Ahkam. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Griya Ilmu.Hal 13-14

Pontianak, 26 Ramadan 1440/31 Mei 2019 menjelang asar

Abu Aisyah Dodi Iskandar

No comments:

Post a Comment