Esensi dari siroh Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam

Sumber Gambar
Siroh nabi adalah perjalanan hidup beliau sejak diutus sebagai Rasul sampai diwafatkan Allah azza wa jalla. Meliputi ibadah, muamalah, dakwah illallah, jihad, hijrah, pengajaran, serta segenap perbuatan, ucapan, dan perilaku beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

Mempelajari siroh bertujuan untuk menauladaninya karena sungguh Allah azza wa jalla telah menjadikan beliau sebagai tauladan (qudwah). Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Sungguh benar-benar telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah tauladan yang baik bagi orang yang ingin kembali kepada Allah pada hari akhir." (al-Ahzab:21).

Hal yang terpenting dan yang paling krusial dari mempelajari siroh nabi yaitu engkau dapat memahami tauhid agar bisa mengamalkannya dan memahami syirik agar bisa menjauhinya.

Tidak cukup hanya mempelajari kebenaran saja melainkan juga harus mengetahui yang batil. Sahabat mulia Hudzaifah ibnul Yaman semoga Allah meridoinya berkata:

كان الناس يسألون النبي صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن أقع فيه

"Orang-orang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan karena aku takut terjatuh ke dalamnya." (HR Bukhari no.3606, Muslim no. 1847, Ahmad no.23282, Ibnu majah no.3979).

Mempelajari kebenaran dan kebatilan merupakan keharusan. Suatu kesalahan jika hanya mengetahui kebenaran saja tanpa mengetahui yang batil. Sebab tatkala tidak mengetahui yang batil maka engkau dapat menyimpang dari kebenaran. Terlebih lagi dengan banyaknya da'i-da'i jelek yang banyak menyesatkan manusia.

Oleh karena itu Al mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menulis risalah siroh nabi yang berkaitan erat dengan permasalahan aqidah. Judul risalah tersebut yaitu:
ستة مواضع من السيرة
"enam pelajaran penting dari siroh nabi".

Kaum musyirikin yang menyembah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bahaya dan manfaat mengganggap bahwa perbuatan mereka itu bukan kesyirikan mereka mengatakan bahwa selain Allah itu mereka jadikan sebagai pemberi syafaat di sisi Allah. Pemberian status musyrik kepada orang-orang yang meminta kepada selain Allah untuk dijadikan sebagai pemberi syafaat tertuang dalam firman-Nya:

"Mereka adalah orang-orang yang menyembah selain Allah (musyrik) yaitu sesuatu yang tidak bisa mendatangkan bahaya dan manfaat dan mengatakan mereka (selain Allah) adalah pemberi syafaat disisi Allah" (Yunus:18).

Dalam ayat lain disebutkan:

"Dan sesungguhnya perbuatan syirik tersebut benar-benar telah menyesatkan mereka dari jalan kebenaran dan mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk." (Az-Zuhruf:37).

Ini juga menjadi fenomena yang terjadi di zaman sekarang mereka mengaku bagian dari Islam melakukan suatu perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara berbuat syirik.

Di antaranya: meminta penghuni kubur dari kalangan para wali dan orang soleh sebagai pemberi syafaat, menyembelih hewan dan bernazar untuk penghuni kubur, berthowaf dan meminta berkah kepada penghuni makam. Mereka mengatakan: "Kami tidak menyembah selain Allah, kami hanya menjadikan mereka sebagai perantara saja antara kami dengan Allah karena mereka adalah orang-orang soleh."


Itu semua karena kebodohan mereka terhadap kebatilan yaitu syirik dan syetan telah menghiasi dengan membisikkan kepada mereka: "Kalian itu tidak menyembah berhala, yang kalian lakukan hanyalah meminta orang-orang soleh agar menjadi perantara antara kalian dengan Allah."

Kejahilan tentang syirik ini diterangkan dan dibantah oleh Allah dalam ayat-Nya:

"Manusia-manusia yang menyembah selain Allah sesuatu yang tidak mampu mendatangkan bahaya dan manfaat dan mengatakan sesembahan selain Allah itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah. Katakanlah oleh kalian, apakah kalian akan memberitahukan kepada Allah sesuatu yang tidak Allah ketahui di langit dan di bumi,  Maha Suci dan Maha Tinggi bagi Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Yunus:18).

Allah telah menamakan perbuatan mereka dengan kalimat "dari apa yang mereka persekutukan," hal tersebut menunjukkan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik.

Sementara orang-orang musyrik menyebutnya syafaat. Oleh sebab itulah wajib bagi kita untuk mempelajari syirik agar mengetahui bahwa yang banyak dilakukan manusia itu adalah kesyirikan yaitu menjadikan orang soleh sebagai perantara dan mereka menganggap Allah mencintai perbuatan mereka, mereka mengatakan hal ini termasuk tauhid.

Orang-orang musyrik menganggap sesuatu yang jelas syirik sebagai perbuatan tauhid karena kebodohan mereka. Oleh karena itu semakin memperjelas bahwa mempelajari tauhid dan syirik adalah kewajiban yang tida boleh ditunda-tunda dan diremehkan.

Referensi:
Syarah Sittati Mawadi'a Minas Siroh. Syaikh Soleh Al Fauzan. Hal 59-65

Pontianak, 27 Ramadan 1440/1 Juni 2019 menjelang sholat zuhur

Abu Aisyah Dodi Iskandar

No comments:

Post a Comment