IslamPonti

  • Home
  • Tentang Penulis
  • Blog
    • Manhaj
    • Akhlak
    • Akidah
    • Bahasa Arab
    • Fikih
    • Keluarga
    • Lainnya
  • Rekaman Kajian
  • Download

 

Bukti Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah menganggap tawassul termasuk masalah fikih ijtihadiyyah dapat dicek di kitab fatawa wal masa’il Karya beliau sendiri di Halaman 68-69, berikut teks arabnya: 

العاشرة - قولهم في الاستسقاء: لا بأس بالتوسل بالصالحين؛ وقول أحمد: يتوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم خاصة، مع قولهم إنه لا يستغاث بمخلوق، فالفرق ظاهر جداً، وليس الكلام مما نحن فيه، فكون بعض يترخص بالتوسل بالصالحين وبعضهم يخصه بالنبي صلى الله عليه وسلم، وأكثر العلماء ينهي عن ذلك ويكرهه، فهذه المسألة من مسائل الفقه (٥)، ولو كان الصواب عندنا قول الجمهور إنه مكروه فلا ننكر على من فعله، ولا إنكار في مسائل الاجتهاد، لكن إنكارنا على من دعا لمخلوق أعظم مما يدعو الله تعالى، ويقصد القبر يتضرع عند ضريح الشيخ عبد القادر أو غيره يطلب فيه تفريج الكربات، وإغاثة اللهفات، وإعطاء الرغبات فأين هذا ممن يدعو الله مخلصاً له الدين لا يدعو مع الله أحداً، ولكن يقول في دعائه: أسألك بنبيك، أو بالمرسلين، أو بعبادك الصالحين، أو يقصد قبر معروف أو غيره يدعو عنده ، لكن لا يدعو ( إلا ) (١) الله مخلصاً له الدين ، فأين هذا مما نحن فيه ؟

Poin Kesepuluh: Tawasul dalam Shalat Istisqa dan Perbedaannya dengan Meminta kepada Makhluk

1. Membedakan Tawasul dan Istighatsah

Sebagian ulama membolehkan tawasul (menjadikan perantara) dengan orang-orang saleh. Imam Ahmad pun secara khusus membolehkan tawasul dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Meskipun begitu, mereka tetap menegaskan bahwa istighatsah (meminta pertolongan langsung) kepada selain Allah itu tidak boleh. Perbedaan antara keduanya sangatlah jelas dan bukan merupakan pokok bahasan yang sedang kita permasalahkan.

2. Perbedaan Pendapat Para Ulama (Masalah Fikih)

Mengenai hukum bertawasul, terdapat beberapa pandangan di kalangan ulama:

  • Sebagian ulama membolehkan tawasul dengan orang-orang saleh secara umum.
  • Sebagian lainnya membolehkan tawasul khusus hanya untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
  • Mayoritas ulama (jumhur) melarang dan membencinya (menghukuminya makruh).

Karena topik ini tergolong sebagai masalah fikih ijtihadiyah (masalah yang masih dibahas lewat ijtihad para ulama), maka meskipun pendapat yang kami anggap paling benar adalah pendapat mayoritas ulama (makruh), kita tidak boleh saling menyalahkan atau mengingkari orang yang bertawasul. Prinsipnya: tidak ada pengingkaran keras dalam masalah-masalah ijtihad.

3. Fokus Pengingkaran yang Sebenarnya

Sikap tegas dan pengingkaran kita sejatinya ditujukan kepada orang yang berdoa langsung kepada makhluk. Contohnya:

  • Orang yang mendatangi kuburan (seperti makam Syekh Abdul Qadir al-Jilani atau wali lainnya), lalu merendahkan diri dan berdoa kepada penghuni kubur tersebut.
  • Meminta kepada si penghuni kubur agar menghilangkan kesusahan, menolong dari kesulitan, serta mengabulkan berbagai hajat.

4. Perbandingan Dua Kondisi

Sungguh sangat jauh perbedaannya antara dua hal berikut:

  1. Orang yang berdoa langsung kepada selain Allah di kuburan (seperti contoh di atas).
  2. Orang yang berdoa murni hanya kepada Allah, tidak mempersekutukan-Nya, namun di dalam doanya ia menyelipkan kalimat tawasul, seperti:

"Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu melalui perantara Nabi-Mu, para Rasul-Mu, atau hamba-hamba-Mu yang saleh". Maksudnya, seseorang mendatangi makam tokoh terkenal (seperti Ma'ruf al-Karkhi) atau makam lainnya, lalu berdoa di sisi makam tersebut. Namun, ia berdoa hanya kepada Allah semata dengan penuh keikhlasan. Maka sungguh sangat jauh perbedaannya antara perbuatan ini dengan perkara (penyimpangan/syirik) yang sedang kita bahas saat ini."

 

 

Pontianak, 6 Jumadil awal 1448/17 Oktober 2026

 

Akhukum fillah

 

Dr. Dodi Iskandar

Alumni Mahad Al Ilmi Yogyakarta

Dosen Politeknik Negeri Pontianak

Staf Ahli LPPOM MUI Kalbar

 

 

Google Banana Image

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengajurkan tadarusan (fokus pada kondisi kedua) di Masjid, beliau tidak membidahkan sebagaimana beliau rahimahullah terangkan dalam kitab syarah arbain an nawawi hal 433-434 terbitan muasasah syaikh muhammad bin shalih al ustaimin al khairiyyah tahun 1444 cetakan ke-16 berikut teks arabnya:

18 - الحث على الاجتماع على كتاب الله عز وجل، ثم إذا اجتمعوا فلهم ثلاث حالات:

الحال الأولى: أن يقرؤوا جميعًا بفم واحد وصوت واحد، وهذا على سبيل التعليم لا بأس به، كما يقرأ المعلم الآية ثم يتبعه المتعلمون بصوت واحد، وإن كان على سبيل التعبد فبدعة، لأن ذلك لم يؤثر عن الصحابة ولا عن التابعين.

الحال الثانية: أن يجتمع القوم فيقرأ أحدهم وينصت الآخرون، ثم يقرأ الثاني ثم الثالث ثم الرابع وهلم جرا، وهذا له وجهان:

الوجه الأول: أن يكرروا المقروء، فيقرأ الأول مثلا صفحة، ثم يقرأ الثاني نفس الصفحة، ثم الثالث نفس الصفحة وهكذا، وهذا لا بأس به، ولا سيما لحفاظ القرآن الذين يريدون تثبيت حفظهم.

الوجه الثاني: أن يقرأ الأول قراءة خاصة به أو مشتركة، ثم يقرأ الثاني غير ما قرأ الأول، وهذا أيضًا لا بأس به.

وكان علماؤنا ومشايخنا يفعلون هذا، فيقرأ أحدهم الثمن الأول من البقرة مثلا، ويقرأ الثاني الثمن الثاني، ويقرأ الثالث الثمن الثالث وهلم جرا، فيكون أحدهم قارئًا والآخرون مستمعين، والمستمع له حكم القارئ في الثواب، ولهذا قال الله عز وجل في قصة موسى وهارون: ﴿قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا﴾ [يونس: 89]، والداعي موسى عليه السلام، كما قال الله تعالى: ﴿وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ﴾

الْأَلِيمَ (۸۸) قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا [يونس: ٨٨-٨٩] قيل: إن موسى يدعو وهارون يؤمن، ولهذا شرع للإنسان المستمع لقراءة القارئ إذا سجد القارئ أن يسجد.

الحال الثالثة: أن يجتمعوا وكل إنسان يقرأ لنفسه دون أن يستمع له الآخرون، وهذه هو الذي عليه الناس الآن، فتجد الناس في الصف في المسجد كلُّ يقرأ لنفسه والآخرون لا يستمعون إليه.

18. Anjuran Berkumpul untuk Membaca Al-Qur'an

Ketika orang-orang berkumpul untuk membaca Al-Qur'an, ada tiga kondisi atau cara yang biasa terjadi:

1. Kondisi Pertama: Membaca Bersama-sama Serentak (Satu Suara)

  • Tujuan Pengajaran (Belajar-Mengajar): Boleh/Diperbolehkan. Contohnya ketika guru membaca satu ayat, lalu para murid mengulanginya bersama-sama untuk belajar.
  • Tujuan Ibadah (Rutin/Khusus): Bid'ah. Hal ini tidak diperbolehkan jika niatnya murni sebagai bentuk ibadah khusus, karena tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat maupun tabi'in.

2. Kondisi Kedua: Membaca Bergantian (Satu Membaca, yang Lain Menyimak)

Satu orang membaca Al-Qur'an sementara yang lainnya mendengarkan dengan tenang, lalu dilanjutkan oleh orang kedua, ketiga, dan seterusnya. Metode ini terbagi menjadi dua cara:

  • Cara Pertama (Mengulang Bacaan yang Sama):

Orang pertama membaca satu halaman, lalu orang kedua membaca halaman yang sama, diikuti orang ketiga, dan seterusnya.

    • Hukum: Boleh. Cara ini sangat bagus dan bermanfaat, terutama bagi para penghafal Al-Qur'an yang ingin memperkuat (muraja'ah) hafalan mereka.
  • Cara Kedua (Melanjutkan Bacaan/Tadarus Bergantian):

 

Orang pertama membaca suatu bagian, lalu orang kedua melanjutkan ayat/halaman berikutnya.



    • Hukum: Boleh. Ini adalah kebiasaan para ulama dan guru-guru kami. Misalnya, orang pertama membaca seperdelapan juz (utsmun) pertama surat Al-Baqarah, orang kedua membaca bagian berikutnya, dan seterusnya.

 

    • Keutamaan: Seseorang menjadi pembaca dan yang lainnya menjadi pendengar. Pendengar mendapatkan pahala yang sama dengan pembaca. 

Dalil Keutamaan Pendengar:

Allah Azza wa Jalla berfirman mengenai kisah Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihimassalam:

“Sungguh, telah dikabulkan doa kamu berdua...” (QS. Yunus: 89)

Padahal, yang mengucap doa secara langsung hanyalah Nabi Musa (sebagaimana disebutkan dalam QS. Yunus: 88). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Nabi Musa yang berdoa, sedangkan Nabi Harun menyimak dan mengaminkannya. Karena ikut mengaminkan, Allah menganggap keduanya sama-sama berdoa.

Oleh sebab itu, disyariatkan pula bagi orang yang menyimak/mendengarkan bacaan Al-Qur'an untuk ikut melakukan sujud tilawah apabila si pembaca melakukan sujud tilawah.

3. Kondisi Ketiga: Berkumpul dalam Satu Ruangan, Tetapi Membaca Masing-Masing

Setiap orang membaca Al-Qur'an untuk dirinya sendiri tanpa saling mendengarkan atau menyimak satu sama lain.

  • Gambaran Realita: Inilah kondisi yang paling umum kita jumpai saat ini, seperti jamaah yang duduk di shaf-shaf masjid di mana masing-masing membaca Al-Qur'an sendiri-sendiri.

 

Pontianak, 6 Jumadil awal 1448/17 Oktober 2026

Akhukum fillah

 

Dr. Dodi Iskandar

Alumni Mahad Al Ilmi Yogyakarta

Dosen Politeknik Negeri Pontianak

Staf Ahli LPPOM MUI Kalbar

 

 


Berikut adalah ringkasan naratif dari tiga publikasi ilmiah terkait riset tanaman obat asal Kalimantan Barat yang melibatkan Dr. Dodi Iskandar dan tim, mencakup dua spesies tanaman: Bajakah (Spatholobus littoralis Hassk) dan Gambir (Uncaria gambir Roxb). Ketiga publikasi ini saling berkaitan sebagai bagian dari rangkaian riset jangka panjang yang mengeksplorasi potensi farmakologis tanaman lokal Kalimantan sebagai kandidat obat alami, khususnya di bidang antikanker dan antioksidan.

1. Materials Science Forum (2022) — Prediksi Senyawa Bioaktif Spatholobus littoralis via LC-MS/MS dan Studi In Silico

Penulis: Dodi Iskandar dan tim, melibatkan kolaborasi antara Politeknik Negeri Pontianak, Universitas Brawijaya, Universitas Ma Chung, dan Pemerintah Kabupaten Sanggau.

Riset ini berangkat dari fakta bahwa meskipun Bajakah Kuning (Spatholobus littoralis Hassk) telah lama dipakai masyarakat Dayak Kalimantan sebagai obat tradisional, belum ada penelitian yang secara spesifik mengidentifikasi senyawa-senyawa aktif penyusunnya secara molekuler. Studi ini mengisi kekosongan tersebut dengan pendekatan gabungan antara analisis instrumen (LC-MS/MS) dan prediksi komputasional (in silico).

Metode

Sebanyak 3 kilogram batang Spatholobus littoralis Hassk dicacah dengan mesin disk mill, lalu dimaserasi dalam 30 liter etanol, menghasilkan 96,35 gram ekstrak kering setelah disaring, dipekatkan, dan dikeringkan pada suhu 50°C. Ekstrak dianalisis dengan LC-MS/MS (sistem UPLC Waters ACQUITY H-Class, detektor Xevo G2-S Qtof), dicocokkan ke pustaka mzCloud untuk identifikasi struktur. Sifat farmakokinetik tiap senyawa diprediksi dengan SwissADME, dan interaksi senyawa-protein dianalisis dengan STITCH serta divisualisasikan dengan Cytoscape.

Hasil Utama

•  Dari kromatogram ekstrak etanol, teridentifikasi 12 senyawa dengan waktu retensi tertinggi.

•  Sembilan dari 12 senyawa tersebut memenuhi kriteria kelayakan farmakologis standar (rentang berat molekul, luas permukaan polar/TPSA, jumlah ikatan yang dapat berotasi, nilai lipofilisitas XLOGP3, dan kelarutan logS) sehingga dinilai berpotensi aman dikonsumsi secara oral.

•  Analisis interaksi ligan-protein menunjukkan bahwa senyawa nomor 6, yaitu asam 3-hidroksioktanoat, memiliki afinitas ikatan yang kuat (skor kepercayaan 90%) terhadap protein reseptor HCAR3.

•  Sembilan senyawa yang lolos kriteria disimpulkan berpotensi sebagai kandidat obat, meskipun para peneliti secara eksplisit merekomendasikan studi lanjutan berupa molecular docking dan simulasi dinamika molekuler untuk memvalidasi temuan prediksi awal ini.

Studi ini menjadi yang pertama memetakan profil senyawa kimia Bajakah Kuning secara sistematis, membuka jalan bagi riset lanjutan yang lebih mendalam — termasuk uji sitotoksisitas, antioksidan, dan antibakteri yang dilakukan tim yang sama pada tahap berikutnya.

Memahami Istilah Kunci: HCAR3, Pellagra, dan Distal Hereditary Motor Neuronopathy Type 2

HCAR3 (Hydroxycarboxylic Acid Receptor 3) adalah gen pengkode protein reseptor di permukaan sel, tergolong keluarga GPCR (G protein-coupled receptor). Reseptor ini merespons asam hidroksikarboksilat, termasuk asam 3-hidroksioktanoat yang menjadi fokus interaksi dalam studi ini. Begitu senyawa berikatan dengan HCAR3, reseptor mengaktifkan jalur sinyal cAMP yang berperan mengatur metabolisme lemak, khususnya menekan lipolisis pada sel adiposa.

Distal Hereditary Motor Neuronopathy Type 2 (HMN2/dHMN2) adalah kelainan genetik langka yang menyerang saraf motorik tanpa mengganggu fungsi sensorik. Penyakit ini diwariskan secara autosomal dominan, dengan gejala mulai muncul di usia 15-25 tahun, diawali kelemahan otot ekstensor jempol kaki dan berkembang progresif hingga kelumpuhan menyeluruh pada otot bagian distal tungkai bawah.

Pellagra adalah penyakit akibat kekurangan niasin (vitamin B3) dalam tubuh, dengan gejala klasik yang dikenal sebagai 'tiga D': dermatitis (peradangan kulit), diare, dan demensia (gangguan kognitif). Apabila tidak ditangani, kondisi ini berpotensi berakibat fatal.

Catatan penting: penelusuran ke basis data GeneCards versi terkini menunjukkan asosiasi HCAR3 dengan pellagra tidak lagi tercatat — pellagra kini lebih dikaitkan dengan HCAR2, paralog dari HCAR3. Kemungkinan penyebabnya adalah pembaruan basis data sejak 2022, atau tumpang tindih informasi antar kedua gen paralog tersebut. Untuk sitasi mendatang, disarankan verifikasi ulang ke GeneCards terbaru.

2. Majalah Obat Tradisional UGM (2024) — Isolasi Senyawa Antikanker dari Fraksi Etil Asetat Spatholobus littoralis

Publikasi kedua ini merupakan kelanjutan dari studi profiling senyawa sebelumnya, berfokus pada isolasi dan pemurnian senyawa tunggal dari fraksi etil asetat batang Bajakah, sekaligus menguji langsung bioaktivitas antikankernya secara in vitro.

Metode

Proses isolasi senyawa dilakukan dengan HPLC preparatif. Struktur molekul isolat yang diperoleh dielusidasi melalui kombinasi LC-MS/MS (penentuan massa dan pola fragmentasi), FTIR (identifikasi gugus fungsi), dan NMR (pemetaan struktur molekul). Bioaktivitas antikanker diuji menggunakan MTT assay, uji sitotoksisitas standar berbasis kolorimetri.

Hasil Utama

•  Penelitian berhasil mengisolasi dua senyawa dari fraksi etil asetat, yang keduanya diprediksi merupakan senyawa yang sama, yaitu pseudobaptinin.

•  Isolat pseudobaptinin dalam kondisi relatif murni menunjukkan nilai IC50 sebesar 62,85 ppm terhadap sel kanker yang diuji.

•  Isolat pseudobaptinin yang masih mengandung pengotor (impurities) menunjukkan nilai IC50 yang jauh lebih tinggi, yaitu 145,60 ppm — mengindikasikan bahwa kemurnian senyawa berpengaruh signifikan terhadap potensi sitotoksiknya.

Temuan ini penting karena berhasil mengidentifikasi secara spesifik senyawa tunggal (pseudobaptinin) yang bertanggung jawab atas aktivitas antikanker Bajakah, melangkah lebih jauh dari sekadar profiling senyawa secara umum menuju identifikasi senyawa aktif yang definitif dan dapat diukur potensinya secara kuantitatif.

3. Majalah Obat Tradisional UGM (2024) — Antioksidan dan Antikanker Payudara dari Daun Uncaria gambir Roxb

Publikasi ketiga ini sedikit berbeda arah karena berfokus pada spesies tanaman yang berbeda, yaitu Gambir (Uncaria gambir Roxb), meskipun tetap melibatkan tim peneliti dan pendekatan metodologis yang serupa dengan riset Bajakah sebelumnya. Gambir dipilih karena juga merupakan tanaman khas Kalimantan Barat yang diprediksi memiliki kandungan senyawa antioksidan dan antikanker payudara.

Metode

Daun Gambir kering seberat 321 gram diekstraksi dengan metode infusa air, direbus 15 menit dengan 4 kali pengulangan pada suhu 70°C, menghasilkan 96,24 gram ekstrak kental (rendemen 29,98%). Aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH (pembanding kuersetin dan vitamin C) serta FRAP. Skrining in silico memprediksi interaksi senyawa Gambir terhadap protein target TP53, gen supresor tumor. Uji antikanker dilakukan langsung terhadap lini sel kanker payudara 4T1.

Hasil Utama

•  Uji antioksidan metode DPPH menunjukkan nilai IC50 sebesar 81,21 µg/mL ketika ekstrak dibandingkan dengan kuersetin sebagai kontrol positif, dan 73,39 µg/mL ketika dibandingkan dengan vitamin C.

•  Metode FRAP menunjukkan nilai aktivitas antioksidan sebesar 66,05 µg/mL.

•  Skrining in silico mengindikasikan bahwa senyawa-senyawa bioaktif dalam ekstrak Gambir berpotensi berperan sebagai penguat ekspresi gen TP53, sekaligus memiliki sifat antioksidan, antikarsinogenik, kemopreventif, dan penangkal radikal bebas.

•  Pengujian langsung terhadap sel kanker payudara 4T1 menunjukkan ekstrak Gambir berbasis pelarut air memiliki potensi penghambatan yang kuat, dengan nilai IC50 sebesar 87,72 µg/mL.

Ketiga publikasi ini menggambarkan pola riset berkesinambungan: dimulai dari profiling senyawa secara luas (studi pertama), berlanjut ke isolasi senyawa spesifik (studi kedua), dan diperluas ke spesies tanaman lain berpotensi serupa (studi ketiga) — mencerminkan pendekatan sistematis dalam menggali kekayaan hayati Kalimantan Barat sebagai sumber kandidat obat alami di bidang onkologi dan farmakologi bahan alam.

Catatan:

Bagi yang memerlukan artikel ketiga hubungi iskandar.dodi79@gmail.com, nanti saya kirim filenya

 

Referensi:

1.      https://journal.ugm.ac.id/TradMedJ/article/view/92604

2.      https://journal.ugm.ac.id/TradMedJ/article/view/88894

3.      https://www.scientific.net/MSF.1061.181

 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Prakata

﷽


Tujuan blog ini dibuat untuk menyebarkan ajaran Islam yang murni melalui internet sebagaimana yang dipahami oleh salafus sholeh sebagai bentuk realisasi dari peran serta mendakwahkan Islam sebagaimana yang Allah Ta'ala firmankan dalam surat Al Ashr ayat ketiga:


وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ


"supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran"


Abu Aisyah (Dr. Dodi Iskandar, S.Si., M.Pd.)
Lihat Profil Selengkapnya ....

Jadwal Kajian

Jadwal Kajian

Visitor

Copyright © 2015 IslamPonti

Created By ThemeXpose